Senin, 10 Februari 2020

Aturan Aturan Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis Bukan Mahram

Aturan Hukum Jabat Tangan dengan Lawan Jenis Bukan Mahram Aturan Hukum Jabat Tangan dengan Lawan Jenis Bukan Mahram

Para ulama berbeda pendapat wacana jabat tangan atau salaman (mushafahah) seorang pria dan wanita yang bukan mahram.

Mayoritas ulama kecuali madzhab Syafi‘i membolehkan jabat tangan atau salaman (mushafahah) dengan wanita renta yang bukan mahram sebagaimana keterangan berikut ini:

 وتحرم مصافحة المرأة، لقوله صلّى الله عليه وسلم: «إني لا أصافح النساء». لكن الجمهور غير الشافعية أجازوا مصافحة العجوز التي لا تشتهى، ومس يدها، لانعدام خوف الفتنة، قال الحنابلة: كره أحمد مصافحة النساء، وشدد أيضاً حتى لمحرم، وجوزه لوالد، وأخذ يد عجوز شوهاء

Artinya, “Jabat tangan dengan wanita haram menurut sabda Rasulullah SAW, ‘Aku tidak berjabat tangan dengan perempuan,’ (HR Al-Muwaththa’, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i). Tetapi dominan ulama selain madzhab Syafi’I membolehkan jabat tangan dan sentuh tangan wanita renta yang tidak bersyahwat alasannya tidak khawatir fitnah. Hanya saja Madzhab Hanbali memakruhkan jabat tangan dengan wanita dan melarang keras termasuk dengan mahram. Tetapi Madzhab Hanbali membolehkan jabat tangan bagi seorang bapak dengan anaknya dan membolehkan jabat tangan wanita tua–maaf–buruk rupa,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 567).

Untuk Madzhab Syafi’i mengharamkan jabat tangan dan memandang perempuan, sekalipun hanya wanita tua. Hanya saja Madzhab Syafi’i membolehkan jabat tangan antara seorang pria dan wanita yang bukan mahramnya dengan dihalangi semisal sarung tangan sebagaimana keterangan berikut ini:

  وحرم الشافعية المس والنظر للمرأة مطلقاً، ولو كانت المرأة عجوزاً. وتجوز المصافحة بحائل يمنع المس المباشر

 Artinya, “MadzhabSyafi’i mengharamkan bersentuhan dan memandang wanita secara mutlak, meskipun hanya wanita tua. Tetapi boleh jabat tangan dengan ganjal (sejenis sarung tangan atau kain) yang mencegah sentuhan langsung,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 567).

Lalu bagaimana dengan jabat tangan seorang pria dan wanita muda yang bukan mahramnya?

Ulama dari empat madzhab dan juga Ibnu Taymiyah mengharamkan praktik tersebut. Tetapi ulama dari Madzhab Hanafi memperlihatkan catatan bahwa keharaman itu berlaku sejauh wanita muda tersebut sanggup menjadikan syahwat sebagaimana keterangan berikut ini:

 وَأَمَّا مُصَافَحَةُ الرَّجُل لِلْمَرْأَةِ الأجْنَبِيَّةِ الشَّابَّةِ فَقَدْ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الرِّوَايَةِ الْمُخْتَارَةِ، وَابْنُ تَيْمِيَّةَ إِلَى تَحْرِيمِهَا، وَقَيَّدَ الْحَنَفِيَّةُ التَّحْرِيمَ بِأَنْ تَكُونَ الشَّابَّةُ مُشْتَهَاةً، وَقَال الْحَنَابِلَةُ : وَسَوَاءٌ أَكَانَتْ مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ كَثَوْبٍ وَنَحْوِهِ أَمْ لاَ

Artinya, “Perihal jabat tangan seorang pria dengan wanita muda bukan mahram, ulama Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali dalam riwayat pilihan, serta Ibnu Taimiyah memandang keharamannya. Tetapi Ulama Madzhab Hanafi memperlihatkan catatan keharaman itu kalau wanita muda tersebut sanggup menjadikan syahwat. Sedangkan Madzhab Hanbali mengatakan, keharaman itu sama saja apakah jabat tangan dilakukan dengan ganjal menyerupai pakaian, sejenisnya, atau tanpa alas,” (Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz 37, halaman 359).


Perbedaan pandangan ulama wacana ini juga diangkat oleh Syekh Ali Jum‘ah dalam menyerupai dilansir laman Darul Ifta (Lembaga Fatwa Mesir) nomor 2287 yang diunggah pada 13 Januari 2011 berikut ini:

مصافحة الرجل للمرأة الأجنبية محل خلاف في الفقه الإسلامي؛ فيرى جمهور العلماء حرمة ذلك، إلا أن الحنفية والحنابلة أجازوا مصافحة العجوز التي لا تُشتَهَى؛ لأمن الفتنة… بينما يرى جماعة من العلماء جواز ذلك؛ لما ثبت أن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه صافح النساء لمَّا امتنع النبي صلى الله عليه وآله وسلم عن مصافحتهن عند مبايعتهن له، فيكون الامتناع عن المصافحة من خصائص النبي صلى الله عليه وآله وسلم

Artinya, “Jabat tangan seorang pria dan wanita yang bukan mahramnya menjadi arena perbedaan pendapat ulama dalam kajian fiqih Islam. Mayoritas ulama memandang haram praktik itu kecuali Madzhab Hanafi dan Hanbali yang membolehkan praktik itu terhadap wanita renta yang tidak lagi membangkitkan syahwat alasannya kondusif dari fitnah. Ketika sebagian ulama membolehkan praktik itu menurut riwayat bahwa Sayyidina Umar RA berjabat tangan dengan wanita di mana Rasulullah SAW menahan diri dari praktik tersebut, maka penahanan diri Rasulullah dari praktik itu dipahami sebagai bab dari kekhususan Nabi Muhammad SAW,” (Lihat Syekh Ali Jumah, Darul Ifta, [Mesir, Darul Ifta: 2011], nomor 2287).

Ulama yang membolehkan praktik ini bersandar pada riwayat yang menceritakan praktik jabat tangan dengan wanita bukan mahram oleh Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar RA. Mereka menyimpulkan bahwa penahanan diri Rasulullah SAW dari praktik tersebut bersifat khususiyah atau pengecualian yang khusus untuk dirinya sendiri. Sementara ulama yang mengharamkan mendasarkan pandangannya pada keumuman hadits.

0 komentar:

Posting Komentar