Jumat, 07 Februari 2020

Cara Menyusui Bayi Di Kawasan Umum Berdasarkan Islam, Perhatikan Hal Ini!

Cara Menyusui Bayi di Tempat Umum Menurut Islam Cara Menyusui Bayi di Tempat Umum Menurut Islam, Perhatikan Hal Ini!

Perempuan menampakkan payudaranya di depan orang lain dengan alasan menyusui sang bayi yaitu salah satu masalah di masyarakat yang sering kali terjadi. Saking lumrahnya masyarakat tidak lagi mempersoalkan hal ini. Bagaimanakah tanggapan fikih mengenai fenomena ini? Simak pembahasan kali ini!

Sore itu, Udin benar-benar terjebak. Di ketika ia naik bus kota jurusan Probolinggo-Surabaya, tanpa disengaja, sorot matanya tertuju pada salah seorang penumpang bus yang duduk di baris paling depan.

“Astaghfirullah…” ujarnya kaget sambil melotot dengan fokus pandangan yang agak grogi. Nampaknya, Udin melihat seorang Ibu yang sedang menyusui anaknya.

Dengan santainya si Ibu menyusui sang bayi tanpa memakai penutup, auratnya pun tersingkap sehingga terlihat oleh Udin dengan jelas, atau bahkan orang lain yang di sekitar ibu tersebut. Pertarungan antara kepercayaan dan eman bergejolak dalam diri Udin. Tidak mau melihat, tetapi sudah kadung melihatnya. Mau dilihat tetapi takut dosa, “dilema,” ujarnya agak kesal.


Pembaca sekalian, apa yang dialami Udin yaitu salah satu dari sekian banyak orang yang pernah mengalami hal yang sama. Dan tidak sanggup dipungkiri bahwa ilustrasi di atas yaitu pengalaman yang sering terjadi di aneka macam daerah dengan aktor utama yang berbeda-beda. Si perempuan yang mengumbar aurat dengan dalih menyusui anak, dan si pria yang tidak mau menyia-nyiakan peluang emas dengan alasan tidak sengaja melihat.

Kenyataan ini memang sangat memilukan serta meresahkan. Ilutrasi singkat di atas mengindikasikan bahwa untuk saat-saat ini, aurat perempuan kolam di film lagi tayang senantiasa menjadi tontonan wajib untuk semua kalangan tanpa ada sekat pemisah baik secara usia maupun tempat. Lantas bagaimana fikih memotret fenomena di atas? Apakah boleh menampakkan payudaranya di daerah umum ketika menyusui bayi? Seperti di pasar-pasar, angkutan umum dan lain sebagainya dengan alasan menyusui sang anak? Serta bagaimanakah solusinya?

Untuk menjawab beberapa permasalahan tersebut, kita harus tahu bekerjsama ijma (konsensus) ulama telah menetapkan kewajiban menutup aurat bagi perempuan. Ijma’ ini didasarkan terhadap firman Allah swt.

يا أيها النبي قل لأزواجك و بناتك و نساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدني أن يعرفن فلا يئذين و كان الله غفورا رحيما

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, bawah umur perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya nereka lebih gampang untuk dikenal, lantaran itu, mereka tidak diganggu. Dan Allah yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Berdasarkan ayat di atas, perempuan diperintahkan untuk menutup seluruh auratnya. Jilbab yang dimaksud dalam ayat ini yaitu baju kurung yang sanggup menutupi seluruh anggota badan. Berdasarkan konteks lantaran turunnya ayat ini, penggunan jilbab bertujuan sebagai penanda bahwa perempuan tersebut yaitu perempuan merdeka (al-hurrah). Karena di zaman Nabi, perempuan jarang sekali memakai busana yang menutupi seluruh anggota badannya selain wajah dan telapak tangan. Akibatnya, mereka sulit untuk dibedakan  antara perempuan merdeka atau budak. Dengan menutupi seluruh tubuhnya, perempuan tersebut akan terpelihara dari aneka macam gangguan tangan usil, kata-kata tidak pantas, senonoh, dan niat jahat. Ini berdasarkan keterangan dalam kitab Fath al-Qadir hal. 79.

Menurut Imam al-Qurthubi ayat yang seirama dengan kewajiban di atas yaitu firman-Nya :

يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباسايواري سوآتكم وريشا

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan  kepadamu pakian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.”

Sedangkan yang dimaksud dengan aurat (عورات) secara semantis terambil dari kata (عار) yang berarti malu atau sesuatu yang tidak pantas. Dari segi hukum, aurat yaitu pecahan tubuh dari insan yang wajib ditutup.

Akan tetapi para ulama berbeda pendapat terkait batasan aurat perempuan. Menurut jumhur ulama, aurat perempuan di dalam shalat maupun di hadapan pria ajnaby (bukan suami atau mahram) yaitu seluruh badannya kecuali muka dan dua telapak tangan. Salah satu dasar argumentasi jumhur yaitu hadis nabi yang dijelaskan dalam kitab Sunan al-Kubra li al-Baihaqi, juz 2 hal. 226.

إن المرأة إذا بلغت المحيض لم يصلح أن يرى منها إلا هذا و هذا

“Sesungguhnya apabila perempuan telah hingga pada usia haid, maka ia tidak boleh untuk dilihat. Kecuali ini (Nabi menunjuk muka dan dua telapak tangan.”

Berdasarkan alur berpikir di atas, maka sanggup ditarik sebuah tanggapan bahwa perempuan yang menampakkan payudaranya di hadapan ajnabiy ketika menyusui bayinya yaitu haram. Karena kalau kita mengikuti pendapat jumhur terkait dengan batasan aurat perempuan, maka payudara termasuk aurat yang wajib ditutupi.

Cara Menyusui Bayi di Tempat Umum Menurut Islam Cara Menyusui Bayi di Tempat Umum Menurut Islam, Perhatikan Hal Ini!
Adab Menyusui Bayi
Photo by shutterstock.com
Akan tetapi boleh saja menampakkan payudara asalkan di hadapan mahramnya. Karena aurat perempuan di hadapan mahramnya yaitu anggota tubuh yang berada di antara pusar dan lutut. Kebolehan melihat selain aurat di sini berlaku kalau tidak timbul syahwat, kalau timbul syahwat maka haram. Syahwat yang dimaksud yaitu tergeraknya hati terhadap harapan untuk berjima’ baik dibarengi dengan istinsyar-nya dzakar atau tidak, serta baik dibarengi dengan sepertinya madzi atau tidak.

Lantas bolehkah menampakkan payudara di tempat-tempat umum dengan alasan hajat atau darurat? Pada dasarnya syara’ memperlihatkan ruang gerak kepada kaum hawa untuk membuka aurat di ketika dalam kondisi emergency (darurat). Seperti untuk keperluan pengobatan dan khitan. Dalam terminologi fikih, darurat yaitu suatu kondisi yang apabila tidak dilakukan, maka seseorang akan ditimpa kesulitan dimana tidak ada sesuatu apapun yang bila mengganti hal tersebut kecuali melaksanakan hal itu. Sebagian pakar fikih juga mendefinisikan darurat sebagai suatu kondisi yang sanggup menjadikan hilangnya nyawa atau hilangnya anggota badan. Sebuah kaidah fikih yang mengatakan:

الضرورات تبيح المحظورات

“Kemudharatan sanggup membolehkan perbuatan yang dilarang.”

Berdasarkan kaidah ini, perempuan boleh saja membuka auratnya dalam situasi darurat. Dijelaskan dalam Nadham al-Qawa’id al-Fiqhiyyah hal. 59, bahwa ulama juga membolehkan membuka aurat lantaran ada kebutuhn (al-hajah), ibarat ketika mandi, membuang air kecil dan besar, serta berhias. Namun, kebolehan itu berlaku ketika tidak ada orang sama sekali (khalwat). Hajat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang menuntut pada akomodasi untuk mencapai tujuan. Kedudukan hajat terkadang diposisikan sama ibarat dharurat. Sebuah kadiah fikih berbunyi:

الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أو خاصة

“Kebutuhan terkadang diposisikan ibarat dharurat, baik secara umum maupun khusus.”

Dari kaidah ini sanggup ditarik kesimpulan bahwa terkadang hajat juga sanggup membolehkan sesuatu yang dihentikan sebagaimana darurat. Lalu bagaimana dengan menampakkan payudara untuk kepentingan menyusui anak. Apakah termasuk dalam kategori darurat atau yang lainnya? Jawabnya dipilah.

Artinya menyusui anak di depan khalayak ramai sanggup saja dalam kategori darurat. Misalkan kalau hingga tidak menyusui bayi akan terus menerus menangis sehingga akan mengganggu orang-orang di sekitarnya. Maka dalam situasi ibarat ini, si ibu boleh-boleh saja menyusui sang anak.

Tetapi berdasarkan az-Zarqa’, masalah ini sanggup masuk dalam kategori hajat yang hanya sekadar menuntut akomodasi sama ibarat aurat untuk kepentingan mandi, membuang air kecil dan besar serta berhias. Dalam konteks ini, menampakkan payudaranya untuk menyusui anak yaitu diperbolehkan selama ia tidak dilihat oleh orang lain (ajnabiy).

Adapun titik keharaman melihat aurat perempuan yaitu adanya kekhawatiran akan terjadi fitnah. Baik kekhawatiran itu jarang terjadi atau sering terjadi. Standarisasi kekhawatiran yaitu kekhawatiran adanya dorongan terhadap diri seseorang untuk menyentuh atau berkhalwat berdua-duaan dengan perempuan tersebut.

Kesimpulannya, untuk ibu-ibu yang menyusui sang buah hati, hendaknya menjaga diri dengan semaksimal mungkin auratnya biar tidak kelihatan oleh siapapun di daerah umum. Caranya yaitu dengan memakai busana yang sanggup menutupi payudara dari pandangan orang lain. Sang ibu dianjurkan untuk menyediakan DOT sebagai asi alternatif.

Begitupun dengan kaum adam, menjaga pandangan yaitu perilaku terbaik yang harus lakukan. Jika pun sudah terpaksa melihat sebaiknya segera memalingkan diri. Sebab pencegahan yaitu lebih baik daripada menghilangkan. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar