Sabtu, 08 Februari 2020

Fakta Ratu Kalinyamat, Raja Dengan Armada Bahari Terbesar Di Nusantara

 Raja dengan Armada Laut Terbesar di Nusantara Fakta Ratu Kalinyamat, Raja dengan Armada Laut Terbesar di Nusantara
Menurut buku Babat Tanah Jawa, Ratu Kalinyamat ialah putri Pangeran Trenggono (raja Demak ketiga yang memimpin antara tahun 1521-1546) sekaligus cucu Raden Patah (sultan Demak yang pertama).

Nama aslinya ialah Retno Kencono. Sedang nama kalinyamat merupakan sebuah nama julukan pada suatu tempat, yaitu ibu kota Jepara pada waktu itu berada di tempat Kalinyamatan. Baik nama Kalinyamat maupun kedudukannya sebagai ibu kota kerajaan Jepara, dengan tegas dalam bukunya yang populer “De Asia”, penulis Portugis; Deige De Couto telah menyebut kerajaan-kerajaan di pulau Jawa termasuk Jepara “Couja Cidede Principal Se Chama Ceinhama” yang ibu kotanya berjulukan Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat menikah dengan pangeran/sultan Hadlirin. Menurut serat kandaning ringgit purwa, naskah KBG. NR 7 menyebutkan bahwa pangeran Hadlirin merupakan pedagang Tionghoa yang nama aslinya ialah Juragan Win Tang. Dia beserta kapalnya karam dan terdampar di Juang Mara (Jepara). Karena sudah tidak punya apa-apa, balasannya ia bertirakat dan menerima inspirasi untuk pergi ke kesunanan Kudus dan masuk Islam. Kemudian, ia di tempatkan di sebuah tempat tepi sungai Kalinyamat dan balasannya tempat itu menjadi ramai lalu menjadi sebuah desa yang sangat ramai dan sunan Kudus menamakan tempat itu dengan nama Kalinyamat dengan dikuasai oleh Juragan Win Tang.

Pada tahun 1549, saudara Ratu Kalinyamat; Sultan Prawata yang dikala itu menjabat sebagai raja Demak tewas bersama permaisurinya yang dibunuh oleh pengikut Arya Penangsang. Ia lalu membunuh Pangeran Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat. Pangeran Hadlirin berhasil dibunuh oleh pengikut Arya Penangsang dalam perjalanan pulang dari Kudus mengantarkan istrinya dalam rangka memohon keadilan dari Sunan Kudus atas dibunuhnya Sultan Prawata oleh Arya Penangsang. Namun, Sunan Kudus tidak sanggup mendapatkan tuntutan Ratu Kalinyamat alasannya ialah ia memihak Arya Penangsang. Menurut Sunan Kudus, Sultan Prawata memang berhutang nyawa kepada Arya Penangsang yang telah membunuh Pengeran Sekar; alias ayah dari Arya Penangsang.

Setelah simpulan hidup suaminya itu, Retno Kencono dilantik menjadi penguasa Jepara dengan Gelar Ratu Kalinyamat. Pemerintahan Ratu Kalinyamat ialah simbol kepahlawanan seorang putri sebagai tokoh perempuan masa ke 16. Dr. H.J. Dee Graff sejawan Belanda yang banyak menggeluti sejarah Jawa dalam bukunya Awal Kebangkitan Mataram menulis bahwa Ratu Kalinyamat telah dua kali menyerang Portugis dan Malaka, yakni pada tahun 1550 dan tahun 1574.

Menurut De Couro, pada tahun 1550 Raja Johor menulis sepucuk surat kepada Ratu Kalinyamat, mengajak ratu Jepara itu melaksanakan perang suci melawan orang-orang Portugis di Malaka. Dalam surat itu, Raja Johor juga menyatakan di Malaka telah terjadi kekurangan materi pangan.

Ratu Kalinyamat menjawab usul itu dengan mengirim sebuah armada yang kuat. Dalam serangan tersebut telah muncul 200 buah kapal besar dari negeri-negeri Islam yang bersekutu menyerang Malaka, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara, memuat 4 hingga 5 ribu orang prajurit. Armada itu dikepalai oleh seorang Panglima, seorang Jawa yang disebut dengan nama julukan “Sang Adipati”, seorang lelaki yang gagah berani.

Pada tahun 1573, sultan Aceh meminta pertolongan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal layar yang 80 buah di antaranya berukuan besar masing-masing berbobot 400 ton, serta sekitar 15.000 prajurit yang dibekali meriam dan mesiu.. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu gres datang di Malaka bulan Oktober 1574.

Dari data tersebut maka Ratu Kalinyamat pernah mempunyai armada maritim yang luar biasa besarnya, maka tak heran jikalau masa pemerintahannya tempat pesisir utara berada dalam kekuasaannya. Orang-orang Portugis juga mengakui kebesarannya. Dalam buku De Couto Ratu Kalinyamat disebut “Rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti “Ratu Jepara seorang perempuan yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”.

Kemasyhuran kepemimpinan Ratu Kalinyamat juga hingga seluruh penjuru nusantara. Hal ini didasarkan dari gosip Portugis yang melaporkan bahwa ada relasi antara Ambon dan Jepara. Pemimpin pemimpin “Persekutuan Hitu” di Ambon ternyata beberapa kali meminta pertolongan Jepara melawan orang Portugis dan juga melawan suku yang lain yang masih seketurunan, yaitu orang-orang Hative.


Ratu Kalinyamat diperkirakan memimpin Jepara selama 30 tahun di mulai dari tahun 1549-1579. Selama itulah ia menjadi Ratu Kalinyamat yang hidupnya dipakai untuk mensejahterakan masyarakat Jepara dan melaksanakan dakwah Islam di wilayah Pantai Utara Pulau Jawa. Ratu Kalinyamat di makamkan di bersahabat makam suaminya; Sultan Hadlirin di desa Mantingan.

Penggantinya ialah Pangeran Jepara, Putra angkat Ratu Kalinyamat. Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota Jepara yang berjulukan Pangeran Aria atau Pangeran Jepara ialah putra Raja Banten Hasanuddin. Pada masa itu pertahanan Jepara mulai mengalami kemerosotan.

Masyarakat Jawa Tengah khususnya Jepara, mengakui sosok Ratu Kalinyamat sebagai Ratu yang besar alasannya ialah nilai-nilai keluhurannya yang memungkinkan menjadi tokoh panutan masyarakat. Di antaranya;

Pertama. Sosok yang cinta tanah air, bahwa Ratu Kalinyamat telah berhasil mengantarkan Jepara kepada puncak kejayaan.

Kedua. Sosok penuh patriotik dan solidaritas, keberaniannya menyerang Portugis di Malaka, dan kerja samanya dengan Raja Johor dan Aceh.

Ketiga. Seorang Muslimat yang setia kepada suami, dengan simpulan hidup suaminya ia menjanda seumur hidupnya, padahal belum mempunyai anak, dan di pusaran suaminya didirikan masjid yang kini dikenal dengan masjid kuno Mantingan.

Keempat. Sosok yang tabah hati menghadapi musibah,dengan simpulan hidup saudara dan suaminya ia dengan gigih menghadapi problem yang tengah dihadapi dan dalam waktu yang sama ia menerima bahaya dari Ario Penangsang, namun balasannya sanggup teratasi

0 komentar:

Posting Komentar